Cerita KKN 7

Masih terasa kalau matahari terbit dari utara. Anak-anak SD berangkat ke sekolah melewati posko. Sementara aku masih pusing setelah semalaman membuat RPP seperti yang di minta oleh kepala SD Negeri 1 Maneron awal pekan ini. Tim kedua yang ku tempati didalamnya setelah berangkat pukul 09:00 sedangkan tim pertama telah berangkat pukul 06:30 tadi pagi. Semua sudah dipersiapkan hingga saat keberangkatan ponsel untuk aktivitas internet dan blog desa kini akan macet. Ponselku rusak parah, layarnya pecah, tidak respon lagi bila dioperasikan, hanya pemberitahuan saja yang selalu menyala.

Aku senang, anak-anak merespon dengan baik, pelajaran yang ku sampaikan sesuai dengan RPP yang ku buat dan tentunya bersama Tias dan TIM. Tidak ada kendala dalam pengajaran. Semua murid berantusias dengan baik. Semua siswa dapat mengikuti alur pembelajaran seperti konsep dalam RPP.
Hari sudah siang kami diminta untuk mengawasi seluruh kelas oleh guru dan kepala sekolah. Ku rasa kerja tim ini akan ekstra. Tim kami harus mengatus murid-murid yang belum kami kenal. Tentu memerlukan strategi khusus untuk mengatasi amanah ini. Lagi pula tim kami tidak seluruhnya dari fakultas ilmu pendidikan. Namun pada intinya kami harus berupaya mengondisikan kelas. Itulah tugas guru yang berat.

Guru-guru memulai rapat dan kami pun memulai aksi untuk mengondisikan kelas tiga sampai kelas empat karena kelas satu dan dua telah pulang pukul 10:45 tadi. Kami harus mengatasi anak didik kami yang mulai berontak ingin pulang dan lain-lain. Pengondisian pun mulai dilakukan pada setiap kelas yang masih masuk. Masing-masing anggota tim ini harus berpasangan dengan anak yang berpengalaman dalam hal pendidikan anak. Setiap kelas dimasuki sepasang pengajar. Sehingga akhirnya pengondisian kelas selesai hingga jam pulang.

“aku baru kali ini melihat tanganku dicium saat salaman bersama peserta didik” itulah yang diucapkan Risa dan Maya saat jam pulang.

“ini adalah pengalaman pertamaku dalam mengajar” ucap risa dengan raut wajah yang memerah
Sebelum kami pamit untuk meninggalkan sekolah, kami dipersilahkan untuk ke ruang kepala sekolah. Pikiranku sudah bermacam-macam sebab kondisi kelas yang saya hadapi tidak sekondusif guru senior yang biasanya. Kami dipersilakan masuk ke ruang kepala sekolah. Perasaan mulai dingin, apakah RPP yang ku buat akan dipermasalahkan lebih lanjut.

“Silakan dinikmati, saya sudah, tadi saat rapat” ucap kepala sekolah dengan ramah seperti biasa.

“Tidak mengapa, silakan saja. Itu adalah jatah rapat tadi, kebetulan lebih. Jadi, silakan dinikmati” ujarnya sambil masuk ke dalam ruangannya sementara kami berada di ruang tamu.

Aku ucapkan terima kasih padanya sebelum kami menikmati hidangan ini. Memang itulah yang dapat ku terima berdasarkan ceramah pekan lalu untuk berterima kasih kepada siapapun sebelum apapun dimulai. Bukan berterimakasih untuk apapun setelah selesai.
Rujak khas yang seperti kami temui di sekitar posko, ku rasa inilah adanya. Semuanya dapat bagian masing-masing mendapat sebungkus rujak dengan longtong berkuah kacang besertanya. Bungkus telah terbuka dan aku sendiri yang belum membukan bungkusan yang disuruh untuk menikmati itu.

“Aku tidak mendapatkan sendok” ucap Tias yang telah lama membuka bungkusan itu

“Pakai sendokku” aku memberikan pada Tias

“Kamu bagaimana?”

“Tidak apa-apa, nanti saja”

Aku memberikan sendok yang ada dipiringku kepadanya. Perasaanku masih tidak tenang. Apakah setelah ini kami akan diceramahi oleh bapak soleh. Perlahan aku membuka bungkusa itu, ternyata semua isinya sama dengan yang lain. Aku menyobek penggiran bungkusan kertas sepanjang pinggiran bungkusa itu lalu ku lipat empat kali. Itulah sendokku untuk hidangan ini. Ku mulai melahap hidangan yang diberikan kepala SD Negeri 1 Maneron kepada kami. Aku baru mengunya dua kali lalu cucuk memberikan sendoknya padaku.


Hari sudah siang, sekolah mulai sepi, guru-guru pada pulang selain kami, kepala sekolah, dan guru pemegang kunci sekolah ini. Kami mulai pamit dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan pada kami. Akhirnya, kami dipersilahkan untuk berenjak. Pikiranku yang tak enak mulai lega. Apa yang ku perkirakan sebelumnya tidak terjadi. Sampai kami di posko KKN aku masih tak paham mengenai model tertawanya saat kami beranjak dari sekolah siang tadi.

0 komentar:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Top WordPress Themes